Golden Butterfly
Subhan Pribadi: Agustus 2015

Ketika Senang Ingatlah Susah

Dalam hidup kita sehari-hari, dua hal berbeda yang silih berganti adalah adalah kesenangan dan kesusahan. Bahkan menurut beberapa orang, kalau hidup itu indah karena perbedaan tersebut. Bayangkan kalau orang senang terus atau susah terus, tentu bukan sesuatu yang baik. Ketika kita senang, maka kita diharapkan ingat ketika dulu pernah susah. Dan ketika kita susah ingatlah bahwa suatu saat akan ada kesenangan. Hal ini seperti firman Allah SWT:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS Alam Nasyrah 5-6)

Hal penting yang perlu diperhatikan bagaimana sifat dasar seorang manusia dalam menghadapi kedua hal tersebut. Allah SWT berfirman :

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.” (QS. Al Israa’ 83)

Dalam ayat ini, Allah SWT menyebutkan sifat manusia terhadap kesenangan terlebih dahulu karena ujian terhadap kesenangan adalah lebih berat.

Dari ‘Amr bin ‘Auf r.a. berkata: Rasulullah mengutus Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah r.a. ke Bahrain untuk menagih pajak penduduk. Kemudian ia kembali dari Bahrain dengan membawa harta yang sangat banyak dan kedatangan kembali Abu ‘Ubaidah itu terdengar oleh sahabat Anshar maka mereka pun shalat Shubuh bersama Rasulullah saw. Kemudian setelah selesai shalat mereka menghadap Rasulullah saw maka beliau tersenyum melihat mereka kemudian bersabda,`

“Mungkin kamu telah mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah yang membawa harta banyak?” Jawab mereka, “Benar, ya Rasulullah.” Lalu Nabi saw bersabda, “Sambutlah kabar baik dan tetaplah berpengharapan baik untuk mencapai semua cita-citamu. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu, tetapi aku khawatir kalau terhampar luas dunia ini bagimu, sebagaimana telah terhampar untuk orang-orang yang sebelum kamu, kemudian kamu berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga membinasakan kamu sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada saat inipun bisa kita lihat. Seorang miskin apabila dia tidak sabar maka yang dicuri adalah hape atau sepeda motor. Sedang orang yang menjadi tersangka KPK telah didakwa dengan korupsi sampai miliard rupiah. Hal ini menunjukkan orang tidak tahan dengan kesenangan dan kemewahan. Atau hal ini tersebut dalam Al Quran tentang orang yang mendapat musibah di lautan akan berdoa kepada Allah, tetapi lupa ketika sudah sampai darat.

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih” (QS. Al Israa 67)

Secara psikologis, seorang muslim apabila ditimpa musibah maka dia akan mendekat kepada Allah SWT dan bersabar, sedang orang yang berhasil biasanya memiliki ego bahwa keberhasilan itu adalah karena hasil jerih payahnya.

Kembali kepada sifat manusia jika mendapat kebahagian seperti yang tertera pada QS. Al Israa 83. Jika mendapatkan kesenangan maka dia memiliki dua kecenderungan yaitu berpaling dari Allah SWT dan sombong terhadap manusia. Jika kesuksesan terjadi pada orang yang tidak beriman maka akan memperkuat keyakinannya bahwa tidak perlu percaya kepada Allah SWT untuk meraih kesuksesan. Mereka akan mencibirkan kaum Muslim yang rajin sholat tapi kehidupannya masih miskin. Sedang bila keberhasilan pada orang munafik, maka mereka berkata “Buat apa sholat? Toh saya masih bisa mendapatkan rizki dari Allah.” Memang Allah SWT melimpahkan rizqi pada setiap manusia di dunia ini tanpa pandang bulu apakah mereka beriman atau mengingkari.

Bagi seorang muslim, keberhasilan masih membuat dia melaksanakan sholat dan ibadah lain. Tapi ada hal lain yang mungkin tidak kalah bahayanya, yaitu adanya perasaan sombong terhadap apa yang didapatkannya. Apa sombong itu? Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR. Muslim)

Hal ini yang sering sulit untuk dihindari. Orang yang sukses terkadang sulit untuk menerima kebenaran yang disampaikan oleh orang lain, apalagi dari orang yang lebih muda, lebih miskin atau lebih rendah derajatnya. Penolakan kebenaran tersebut biasa dibarengi dengan merendahkan orang lain, karena dia menganggap dialah yang lebih tinggi, lebih berhasil dan lebih berkuasa.

Demikianlah, kita semoga kita selalu bisa menjaga hati dalam setiap keadaan.
 “Alangkah menakjubkannya kehidupan seorang mukmin. Sungguh seluruh kehidupannya baik. Hal itu tidak dimiliki melainkan oleh mukmin. Jika dikaruniai kebaikan; maka ia bersyukur, dan itu baik untuknya. Dan jika ditimpa keburukan; maka ia bersabar, dan itu baik untuknya” (HR. Muslim)

Dan memang kita harus siap dalam setiap kondisi, seperti yang disampaikan oleh sahabat ‘Umar bin al-Khaththab: “Kalaulah sabar dan syukur itu ibarat dua ekor unta, maka aku tidak peduli unta mana yang aku kendarai” (‘Uddatus Shobirin wa Dzakhiratus Syakirin hal.144).

Wallahu a’lam.

Komponen dan Sistematika RPP

Komponen dan Sistematika RPP Menurut Permendiknas Nomor 103 Tahun 2014

Pemendikbud Nomor 103 Tahun 2014 juga mengatur format RPP yang harus dibuat oleh guru. hal ini menegaskan bahwa tidak berlakunya Permendikbud 81 A yang dulunya mengatur format RPP kurikulum 2013. Beberapa komponen yang harus diperhatikan guru dalam membuat RPP sesuai dengan Permendikbud 103 Tahun 2014 tersebut adalah sebagai berikut :



Dengan beberapa hal yang harus diperhatikan:
*) Pada setiap KD dikembangkan indikator atau penanda. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-1 dan KI-2 dirumuskan dalam bentuk perilaku umum yang bermuatan nilai dan sikap yang gejalanya dapat diamati sebagai dampak pengiring dari KD pada KI-3 dan KI-4. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-3 dan KI-4 dirumuskan dalam bentuk perilaku spesifik yang dapat diamati dan terukur.

**) Pada kegiatan inti, kelima pengalaman belajar tidak harus muncul seluruhnya dalam satu pertemuan tetapi dapat dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, tergantung cakupan muatan pembelajaran. Setiap langkah pembelajaran dapat digunakan berbagai metode dan teknik pembelajaran. http://www.mtsnjembrana.com/

Kejuaraan Catur DPRD Cup II Tahun 2015



Partisipasi MTs.Negeri Jembrana
Dalam Kejuaraan Catur DPRD Cup II Tahun 2015

Rabu 12 Agustus 2015, MTsN.Jembrana kembali mendapatkan undangan sebagai peserta dalam kejuaraan Catur yang diadakan oleh DPRD Kabupaten Jembrana mulai dari tanggal 12 s/d 25 Agustus 2015, bertempat di Kantor DPRD Jembrana (Di ruang siding utama) beralamat di Civic Center Jembrana Sebelah Timur Kantor Bupati. Dan dalam kejuaraan tersebut dibagi dalam beberapa kategori, diantaranya SD/MI, SLTP/MTs SLTA/MA, Senior dan Eksekutif. Untuk memperebutkan hadiah piala bergilir Ketua DPRD Jembrana ditambah uang tunai sebagai pembinaan.

Ketua DPRD Jembrana I Ketut mengatakan digelarnya kejuaraan catur ini sebagai partisipasi pimpinan dan anggota DPRD dalam memperingati HUT Kota Negara ke-120 dan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-70. Dan Agenda Tahunan ini merupakan ajang pembinaan dan menjaring atlet catur dengan sasaran sekolah-sekolah, karena sekolah merupakan basis pembinaan olah raga catur. Selain itu kejuaraan ini juga bertujuan untuk lebih mendekatkan hubungan antara anggota DPRD dengan masyarakat dan institusi sekolah.

Dan dalam kejuaraan ini Kontingen MTsN.Jembrana dibawah bimbingan Ibu Rika Trijaya, S.Pd. berhasil memperoleh 4 Penghargaan yaitu : Juara 2 (Deni Galang), Juara 5 (A.Aziz Setiawan), Juara 8 (Rahman Hidayat), Juara 10 (Bimo Ilham). Semoga di Tahun mendatang kejuaraan Catur semakin banyak dilaksanakan untuk mengasah kemampuan siswa dalam bermain catur dan siswa MTsn.Jembrana semakin termotivasi untuk meningkatkan prestasinya. (Han’s).http://www.mtsnjembrana.com/

HALAL BIL HALAL



TRADISI HALAL BIL HALAL

SEBAGAI SIMBUL KEMBALI KEPADA FITRAH

Hari pertama masuk pasca libur Hari Raya Idul Fitri 1436 H, Senin tanggal 27 Juli 2015, tepat pukul 08.00 Wita bertempat di halaman Madrasah Tsanawiyah Negeri Jembrana diadakan Halal Bihalal sekaligus dirangkai dengan pembukaan Masa Orientasi Siswa Baru (MOS) Tahun Pelajaran 2015-2016.



Hadir dalam acara ini Kepala Madrasah beserta seluruh Dewan Guru dan Staf serta seluruh siswa MTs. Negeri Jembrana. Dalam sambutannya Kepala MTsN. Jembrana, Drs. Imam Mawardi, M.PdI. berharap agar kegiatan halal bihalal yang dilaksanakan ini dapat mempererat tali silaturahim antara seluruh keluarga besar MTsN Jembrana dan dapat dimanfaatkan sebagai ajang untuk saling meminta maaf dan memberi maaf. Pada akhirnya semua akan kembali fitrah/bersih hati dan fikiran, serta sehat jasmani dan rohani sehingga dapat melaksanakan aktivitas dengan lebih baik lagi.



Acara halal bihalal ini beliau juga mengajak kepada seluruh Dewan Guru, tenaga administrasi dan seluruh siswa untuk berjabat tangan sambil mengucapkan permohonan maaf lahir dan batin sebagai bentuk ekspresi kembali kepada fitrah setelah melakukan perjuangan melawan hawa nafsu sebulan penuh selama bulan suci Ramadhan 1436 H. (Han’s). http://www.mtsnjembrana.com/

Berkurban Atas Nama Orang Tua yang Sudah Meninggal Dunia



Bolehkan Berkurban Atas Nama Orang Tua yang Sudah Meninggal Dunia

Assalammualaikum... Tahun ini saya berniat untuk berkurban atas nama alm. ayah saya. Tapi, ada yang mengatakan bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa diniatkan berkurban tapi niat aqiqah. Mohon penjelasannya berkurban untuk alm. ayah / aqiqah?
Terima kasih
Wassalammualaikum

Assalamu alaikum wr.wb.

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi. Amma ba'du:

Sebelumnya perlu diketahui bahwa hukum berkurban menurut jumhur ulama adalah sunnah mu'akkad bagi muslim yang hidup dan memiliki kemampuan. Sementara bagi yang telah meninggal dunia, menjadi wajib jika sebelum meninggal pernah bernazar atau berwasiat. Namun jika yang meninggal tadi tidak bernazar dan tidak berwasiat, apakah boleh berkurban untuknya?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat: Imam an-Nawawi yang bermadzhab Syafii berpendapat bahwa tidak sah kurban untuk orang yang telah meninggal dunia kecuali jika sebelumnya ia pernah berwasiat. Imam Nawawi berkata, "Tidak boleh berkurban atas nama orang lain tanpa ijinnya, serta tidak boleh berkurban untuk orang yang telah meninggal tanpa wasiatnya."

Dalam madzhab Maliki, berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia hukumnya makruh.

Sementara menurut pandangan jumhur ulama hukumnya boleh dan sah. Artinya pahala kurban tersebut insya Allah sampai kepada yang meninggal dunia. Di antara dalilnya bahwa Ali ra pernah berkurban untuk Nabi saw dengan dua ekor kibas (HR Abu Daud, Ahmad, al-Bayhaqi, al-Hakim).

Dalil lainnya adalah bahwa Rasulullah saw berkurban dengan dua ekor kambing. Yang pertama untuk beliau dan keluarga. Yang kedua untuk umatnya secara umum. Menurut para ulama hal itu meliputi umatnya yang hidup dan yang meninggal dunia.

Ibnul Qayyim, setelah menjelaskan berbagai dalil Alquran dan Sunnah tentang sampainya pahala amal orang yang hidup kepada orang yang meninggal dunia, dalam kitab ar-Ruh berkata, "Semua nash tersebut saling menguatkan bahwa pahala amal bisa sampai kepada orang yang telah meninggal dunia apabila orang yang hidup melakukan amal tersebut untuknya..."

Sementara terkait dengan akikah untuk orang tua yang sudah meninggal dunia, tidak ada penjelasan hal itu pernah dilakukan dan diperbolehkan oleh para ulama salaf. Namun jika dilakukan dengan niat yang baik, semoga menjadi pahala. http://www.mtsnjembrana.com/

Wallahu a'lam.

Wassalamu alaikum wr.wb